REVOLUSI KEBUDAYAAN PERTANIAN INDONESIA
Latar Belakang
Pertanian merupakan salah kekayaan
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pertanian Indonesia memeliki banyak
potensi, sejarah pertanian telah membawa
revolusi yang besar dalam kehidupan manusia. Kebudayaan masyarakat yang
tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan
agraris.
Cukup banyak obyek pertanian yang
dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia
untuk menghasilkan bahan pangan, adapun makalah ini menjelaskan
tentang sejarah dan perkembagan
pertanian di Indonesia. serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
Dengan adanya pertanian di Indonesia
merupakan dampak positif bagi kita dan semuanya. Salah satunya dibidang
pertanian seperti tanaman dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, pertanian
perlu untuk di lestarikan dan dijaga agar lebih baik di masa mendatang.
Tujuan tugas ini
sebagi berikut
Untuk
mengetahui sejarah pertanian dan perkembagan pertanian
Untuk
mengetahui asal mula pertanian
Sejarah Pertanian
Sejarah pertanian adalah bagian dari
sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu
untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Kebudayaan masyarakat
yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan
agraris.
Sebagai bagian dari kebudayaan
manusia, pertanian telah membawa revolusi yang besar dalam kehidupan manusia
sebelum revolusi industri. Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi
kebudayaan pertama yang dialami manusia.
Usaha tani
(farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan
kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani
adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani
tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock)
secara khusus disebut sebagai peternak.
Berdasarkan data statistik yang ada
saat ini sekitar 75% penduduk Indonesia tinggal diwilayah pedesaan. Lebih dari
54% diantaranya menggantungkan hidup dari sektor pertanian dengan tinggat pendapatan yang relative
rendah jika dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di perkotaan.
Kondisi sosial budaya pertanian
merupakan masalah utama dalam fungsi sektor pertanian di dalam pembagunan nasional
dan kemampuan sektor untuk bersaing pada abad yang akan datang.
Sistem pertanian di Indonesia
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia
untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri,
atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya Kegiatan pemanfaatan sumber daya
hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya
tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran hewan ternak (raising),
Meskipun cakupannya dapat pula
berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan,
seperti pembuatan keju dan tempe,
atau sekedar ekstraksi
semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Bagian terbesar penduduk dunia
bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian
hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia
sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor
pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat
penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial
masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di
Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya
menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian
mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu
pertanian adalah biologi
dan ekonomi.
Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung,
seperti ilmu tanah,
meteorologi,
permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian
Sistem pertanian konvensional
merupakan system memicu produktifitas dengan mengandalkan mekanisme dalam
mengolah tanah. Dan merupakan system pertanian yang terpadu (dengan
perternakan) dimana setiap petani memelihara ternak dari kotoran itulah
diproses suatu pupuk organic sendiri.
Kotoran hewan yang ditampung dalam
bak penampunhgan telah dicampur dengan berbagi macam mineral sesuai dengan struktur
dan sifat alam. Kemudian setelah itu diaduk dengan mesen pengaduk dan dimasukan
kedalam mobil tanggki untuk disiramkan atau disemprotkan dilahan pertanian.
Macam-macam
system pertanian di Indonesia
Sistem ladang merupakan
sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem peralihan dari tahap budaya
pengumpul ke tahap budaya penanam. Pengolahan tanahnya sangat minimum,
produktivitas bergantung kepada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang
terjadi karena sistem hutan. Sistem ini pada umumnya terdapat di daerah yang
berpenduduk sedikit dengan ketersediaan lahan tak terbatas. Tanaman yang
diusahakan umumnya tanaman pangan, seperti padi darat, jagung, atau
umbi-umbian.
Asal mula pertanian
Berakhirnya zaman es sekitar 11.000 tahun sebelum Masehi
(SM) menjadikan bumi lebih hangat dan mengalami musim kering yang lebih
panjang. Kondisi ini menguntungkan bagi perkembangan tanaman semusim, yang
dalam waktu relatif singkat memberikan hasil dan biji atau umbinya dapat
disimpan. Ketersediaan biji-bijian dan polong-polongan dalam jumlah memadai
memunculkan perkampungan untuk pertama kalinya, karena kegiatan perburuan dan
peramuan tidak perlu dilakukan setiap saat.
Berdasarkan bukti-bukti peninggalan
artefak, para ahli prasejarah saat ini bersepakat bahwa praktik pertanian
pertama kali berawal di daerah "bulan sabit yang subur" di Mesopotamia
sekitar 8000 SM. Pada waktu itu daerah ini masih lebih hijau daripada keadaan
sekarang. Berdasarkan suatu kajian, 32 dari 56 spesies biji-bijian budidaya berasal dari daerah ini.
Revolusi
Hijau Pertanian Pangan
Tujuan utama revolusi hijau adalah
untuk menaikan prduktivitas dalam sekor pertanian. Khususnya sub-sektor
pertanian pangan melalui penerapan paket teknologi pertanian moderen.
Adapun kelemahan dari revolusi hijau
adalah sub-sektor pangan rentan terhadap berbagai hama, meskipun memiliki
produktivitas yang tinggi namun padi bibit unggul tidak memiliki ketahanan
hidup yang lama.
Dan dampak dari revolusi hijau
adalah mengubah sikap para petani khususnya para petani sub-sektor pangan, daro
sikap “anti teknologi” ke sikap yang mau memanfaatkan teknologi pertanian
modern dan berpengaruh terhadap kenaikan produktivitas sub-sektor pertanian
pangan.
Diversifikasi pangan
Program
peningkatan ketahanan pangan merupakan fasilitas bagi terjaminnya masyarakat
untuk memperoleh pangan yang cukup setiap saat, sehat dan halal. Ketahanan
rumah tangga berkaitan dengan kemampuan rumah tangga untuk dapat akses terhadap
pangan di pasar, dengan demikian ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh
kemampuan daya beli atau pendapatan rumah tangga. Sejalan dengan itu maka
peningkatan pendapatan rumah tangga merupakan faktor kunci dari peningkatan
ketahanan pangan rumah tangga.
Pangan dalam arti luas mencakup
pangan yang berasal dari tanaman, ternak dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya yang
bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan. Sasaran yang ingin dicapai adalah:
1. Dicapainya ketersediaan pangan
tingkat nasional, regional dan rumah tangga yang cukup, aman dan halal
2.
Meningkatnya keragaman produksi dan
konsumsi pangan masyarakat
3. Meningkatnya kemampuan masyarakat
dalam mengatasi kerawanan pangan
Kegiatan utama Program Peningkatan
Ketahanan Pangan meliputi:
1.
Peningkatan produksi dan
ketersediaan pangan
2.
Pengembangan diversifikasi produksi
dan konsumsi pangan yang bertumpu pada sumber daya local penyusunan kebijakan
dan pengendalian harga pangan
3.
Penanggulangan kasus atau kejadian
kerawanan pangan
1,9 Pertumbuhan Ekonomi Terhadap
Perkembagan Sektor Pertanian
semua objek pertanian sebenarnya memiliki
dasar-dasar yang sama karena pada dasarnya usaha pertanian adalah kegiatan
ekonomi:
pengelolaan tempat usaha,
pemilihan bibit,
metode budidaya,
pengumpulan hasil,
distribusi,
pengolahan dan pengemasan,
pemasaran.
pengelolaan tempat usaha,
pemilihan bibit,
metode budidaya,
pengumpulan hasil,
distribusi,
pengolahan dan pengemasan,
pemasaran.
Salah satu indicator penting digunakan
untuk mengetahui tinggi rendahnya kesejahteraan petani adalah tukar produk
pertanian.
Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian
dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dinamakan agribisnis.
Dalam kerangka berpikir sistem ini,
pengelolaan tempat usaha dan pemilihan bibit (varietas, galur, dan sebagainya)
biasa diistilahkan sebagai aspek "hulu" dari pertanian, sementara
distribusi, pengolahan, dan pemasaran dimasukkan dalam aspek "hilir".
Budidaya dan pengumpulan hasil merupakan bagian dari aspek proses produksi.
Semua aspek ini penting dan bagaimana investasi diarahkan ke setiap aspek
menjadi pertimbangan strategis. Upaya
meningkatkan hasil pertanian adalah upaya meningkatkan hasil pertanian
dapat dilakukan dengan cara:
* Ekstensifikasi (pada daerah pertanian luar Pulau Jawa)
* Intensifikasi
* Diversifikasi
* Rehabilitasi
* Ekstensifikasi (pada daerah pertanian luar Pulau Jawa)
* Intensifikasi
* Diversifikasi
* Rehabilitasi
Perkembangan
pertanian di indonesia
Perkembangan pertanian di Indonesia saat ini sangat
memprihatinkan. Selain berbagai ancaman akibat bencana alam, dan perubahan
iklim, pertanian juga terancam oleh kerusakan tanah yang makin mengeras karena
intensifikasi penggunaan pupuk. Melalui kebijakan Program Insus 1969 dari
pemerintah, intensitas penggunaan pupuk kimia meningkat. Akibatnya residu tanah
menumpuk, hama meningkat, beragam dan resist terhadap obat-obatan pertanian.
Sementara dari pihak petaninya sendiri telah
mengalami hal-hal yang dapat mengancam hilangnya kemandirian petani. Yaitu kriminalisasi
petani berupa tuntutan hukum terhadap sekitar 16 petani dari Kediri dan
sekitarnya. Salah satunya Burhana Juwito Muhammad Ali, anggota dari Paguyuban
Bina Tani Makmur Kediri yang telah menjalani hukuman lima bulan penjara karena
tuduhan pelanggaran sertifikasi pembenihan. Padahal kenyataannya Burhana tidak
pernah melakukan sertifikasi pembenihan.
Perubahan sistem pemerintahan yang
sentralistik di era Orde Baru menjadi otonomi daerah juga mempengaruhi dalam
hal penyebaran dan pemahaman informasi. Maka yang terpenting adalah komunikasi
program antara pusat dan daerah.
140.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.387 ha
(Dinas Tanaman Pangan Kalsel, 2002; Kalimantan Selatan Dalam Angka, 2003)
sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian, perikanan,
perkebunan dan kehutanan.
Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143.118
ha, dan sisanya seluas 199.269 (58,19%) masih berupa lahan tidur yang belum
digarap (Anonim, 2003). Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial
dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas, keadaan
topografi yang datar, ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang
cukup tersedia (Noor. M., 2007).
Disisi sumber daya manusia (SDM) sebagian
besar tenaga kerja produktif masih dominan pada sektor primer (pertanian dan
pertambangan) hal ini dapat dilihat dari data tenaga kerja Prov Kalsel tahun
2008, yang dipublikasikan oleh BPS Kalsel, sebesar 48% dari total tenaga kerja.
Hanya saja belum ada upaya serius untuk
melakukan maintenance sektor pertanian kearah yang
lebih modern. Petani dibiarkan terpecah dalam kekuatan-kekuatan kecil dan
dibiarkan berjuang sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kalaupun
alokasi dana cukup besar untuk sektor pertanian namun orientasinya tidak optimal
dan tidak menyentuh hajat hidup petani secara menyeluruh. Hal ini wajar karena
petani tersebar dalam pecahan kecil. Ini salah satu yang menurut Geertz sebagai
penyebab terjadinya agricultural involution.
Program dan kebijakan apapun yang dikembangkan
oleh pemerintah, tidak akan optimal apabila secara institusi dan pengembangan
sumber daya manusia tidak berkembang dengan baik. Sumber daya manusia dibidang
pertanian semakin berkurang dari sisi kualitas maupun kuantitas. Sementara
lahan dari sisi luasan juga semakin berkurang didesak kemajuan jaman. Namun
dalam metode pengembangan kita masih berkutat pada metode dan cara yang kita
susun pada saat SDM dan lahan berlebih.
Disinilah pentingnya sebuah revolusi pertanian
dalam tataran pengembangan kebijakan terkait pertanian. Harus ada komitmen yang
masif dan kuat yang diwujudkan dalam program jangka panjang terkait kebijakan
pertanian. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor parsial tapi merupakan
tujuan dari keseluruhan pengembangan sektor. Harus ada penguatan pengembangan
SDM disisi kesehatan dan pendidikan untuk mendukung pertanian. Pengembangan
sektor kesejahteraan diarahkan pada peningkatan jaminan kesejahteraan petani
dan sebagainya.
Industrialisasi pertanian harus segera
dilakukan di Kalimantan Selatan karena sudah secara nyata terjadi pergeseran
sektor basis perekonomian yang tidak sehat. Pergeseran kearah sektor tersier
tidak ditopang oleh sektor sekunder (industri) yang kuat, akan menyebabkan
tatanan perekonomian mudah goyah. Dan industri yang paling positif dikembangkan
di wilayah Kalsel dengan dukungan potensi lahan pertanian yang sangat luas
adalah industri pertanian.
Perlu dilakukan kaji ulang kebijakan
pemerintah di sektor pertanian dengan memasukkan kebijakan mendorong
pengembangan infrastruktur pertanian, perencanaan dan implementasi RTRW yang
konsisten, dukungan sistem insentif dalam implementasi produksi komoditas
unggulan wilayah (daerah).
Alih fungsi lahan pertanian terkait
perkembangan wilayah perkotaan yang berimplikasi terhadap wilayah permukiman
dan perdagangan harus diatur dengan tegas. Perlu segera dilakukan inventarisasi
berapa luasan lahan pertanian yang ideal untuk dapat menopang kebutuhan daerah
akan produksi pertanian khususnya tanaman pangan.
Industri pertanian membutuhkan bahan baku yang
besar dan terkoordinasi. Untuk itu kebijakan alih fungsi lahan harus diarahkan
untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pertanian. Kebijakan kompensasi
alih fungsi lahan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan sentra-sentra wilayah pertanian.
Hal ini akan dapat membantu pemusatan pengembangan petani tradisional kearah
modern.
Membangkitkan koperasi-koperasi pertanian
secara selektif akan dapat memperkuat bargaining position kaum tani dan produksinya, agar tidak kalah dengan permintaan
pasar yang selalu menginginkan harga terendah.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ada
sepuluh komoditi pertanian penting yang produksinya pada tahun 2003 mencapai
record tertinggi sepanjang sejarah republik Indonesia. Sepuluh komoditi yang
dimaksud adalah padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, sayuran dan buah, kelapa
sawit, kakao, kopi, karet dan ayam ras. Produksi padi meningkat dari 49 juta
ton tahun 1998 menjadi 52,1 juta ton pada tahun 2003 yang merupakan record
tertinggi sepanjang sejarah. Bahkan tahun 2004, angka ramalan II BPS
menunjukkan produksi padi 53,67 juta ton, yang merupakan record tertinggi baru
sepanjang sejarah. Jagung meningkat 9,2 juta ton tahun 1999 menjadi 11 juta
tahun 2003. CPO meningkat dari 5,62 juta tahun 1998 menjadi 10,6 juta tahun
2003. Karet meningkat dari 1,6 juta ton tahun 1998 menjadi 2,7 juta ton tahun
2003. Ayam ras meningkat dari 324 juta ekor tahun 1999 menjadi 1 milyar tahun
2003. Hal yang membanggakan kita adalah peningkatan produksi tersebut sebagian
besar disumbang oleh peningkatan produktivitas. Mengapa tidak ada gejolak
pangan selama tahun 2000 - 2003 antara lain karena disumbang oleh prestasi
produksi komoditi pangan utama ini. Sesudah 20 tahun tampaknya tahun 2004 ini
kita kembali mencapai swasembada beras.
Tidak
hanya itu, data BPS juga melaporkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di
pedesaan mengalami perbaikan yang cukup berarti. Indeks nilai tukar petani naik
dari 96,6 tahun 2000 menjadi 110,4 pada tahun 2003.Tingkat kemiskinan di
pedesaan turun rata-rata 20 persen yakni dari 32,7 juta tahun 1999 menjadi 25,1
juta tahun 2002. Tingkat kemiskinan juga turun dari 26 juta orang tahun 1999
menjadi 20,6 juta orang tahun 2002. Di pihak lain tingkat upah di pedesaan naik
sekitar 17 persen pertahun sehingga meningkatkan pendapatan buruh tani di
pedesaan.
Secara
makro kemajuan tersebut juga konsisten. Total impor komoditi pertanian masih
besar tetapi mengalami penurunan sementara ekspor meningkat. Sehingga neraca
perdagangan komoditi pertanian mengalami surplus yang meningkat rata-rata 15
persen pertahun, yaitu dari US $ 2.2 milyar tahun 1999 menjadi US $ 3.4 milyar
tahun 2002 dan 3.7 US $ pada tahun 2003. PDB pertanian selama tahun 2000-2003
bertumbuh rata-rata 1,83 persen pertahun dan pertumbuhan PDB pertanian tahun
2003 Mencapai sekitar 2,61 persen. Tingkat pertumbuhan ini lebih tinggi dari
pertumbuhan pertanian selama krisis (1998-1999) yang hanya 0,88 persen bahkan
lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pertanian akhir orde baru (1993-1997)
yang hanya 1,57 persen per tahun.